Ōsaka-ben masih termasuk dalam Keluarga Dialek Kansai. Orang-orang sering tertukar-tukar dalam menggunakan Kansai-ben dengan Ōsaka-ben.
Di dalam Dialek Osaka, aksen adalah penting. Hal ini terlihat misalnya pada: “ookini” dan “maido”. Kedua kata itu merupakan kata dalam Dialek Osaka (DO) yang artinya “terima kasih”. Tapi kata-kata itu bisa menjadi bukan DO bila pengucapannya menggunakan aksen pada Bahasa Jepang Standar (BJS). Dalam hal ini, aksen BJS identik dengan aksen Orang Tokyo. Dengan kata lain, jika suatu frase BJS diucapkan dengan aksen DO, berarti frase tersebut adalah DO. Untuk mengucapkan DO dengan benar, terlebih dahulu pembicara harus tahu apakah suku kata pertama dari suatu suku kata dimulai dengan nada tinggi atau rendah.
1. TipsKata yang bersuku kata 1Kata-kata yang bersuku kata satu, huruf vokalnya dipanjangkan.
Contoh:
-
Me (mata)->
mee-
Cha (teh)->
chaaBunyi “u”Dalam BJS, bunyi “u” sering tidak diucapkan. Namun dalam DO, bunyi “u” diucapkan dengan jelas.
Contoh:
BJS:
TakushiiDO:
Takushii2. Tata Bahasa
2.1. Kata Kerja (KK)2.1.1. Bentuk NegatifDalam konjugasi KK dalam BJS, bentuk negatif dari iku (pergi) adalah ikanai.
Dalam DO->
ikahen/ikehenDalam Dialek Kyoto:
- Ikahen-> tidak pergi
- Ikehen-> tidak dapat pergiSedangkan dalam DO,
tidak dapat pergi-> ikarehenContoh dari KK bentuk negatif dalam DO yang lain:
Miru (melihat)->
miihenNeru (tidur)->
neehenKuru (datang)->
keehen/kiihin/koohenSuru (melakukan)->
seehen/shiihinBeberapa kata kerja ada yang mempunyai variasi, misal:
iku-> ikan, miru-> min2.1.2. Konjugasi dari Bunyi “u”Kata kerja yang berakhiran “u” bila berkonjugasi dengan bentuk “~te” atau “~ta” pada:
KK bersuku kata 2, misal:
Kata:
au (bertemu)
BJS:
~te-> atte | ~ta-> attaDO:
~te-> oote | ~ta-> ootaSedangkan pada KK bersuku kata 3, diucapkan dengan huruf hidup yang lebih pendek, misal:
Kata:
Omou (berpikir)
BJS:
~te-> omotte | ~ta-> omottaDO:
~te-> omote | ~ta-> omota2.1.3. Bentuk PengandaianBJS punya tiga konjugasi dalam bentuk pengandaian yang penggunaannya bergantung pada situasi, yaitu: ~eba, ~tara, ~to. Sedangkan dalam DO, hanya menggunakan bentuk ~tara.
Contoh:
Kata:
Miru (melihat)
BJS->
Mireba, mitara, mirutoDO->
Mitara2.1.4. Bentuk PerintahBentuk perintah dalam DO pada dasarnya sama saja dengan BJS, kecuali KK bersuku kata dua, misalnya:
Kata:
Neru (tidur)
BJS->
Nero!DO->
Nee!Sedangkan untuk memberikan sebuah saran, maka:
Kata:
Taberu (makan), kaeru (pulang)DO->
Tabe (sebagai ganti dari “tabero”), kaeri (sebagai ganti dari “kaere”)2.2. Kata Sifat2.2.1. Peraturan-peraturan UmumUntuk menegatifkan kata sifat dalam DO, caranya adalah dengan mengganti akhiran “i” dengan “nai”. Contoh:
Kata:
Takai (tinggi)
BJS->
TakakunaiDO->
TakanaiUntuk mengatakan sesuatu yang berubah menjadi “lebih”, peraturannya tetap sama, yaitu dengan menghilangkan akhirang “i” dan menambahkan “naru”. Contoh:
Kata:
TakaiBJS->
Takaku naruDO->
Takanaru2.2.2. Konjugasi “~te”Pada kalimat “Karena sangat panas maka…” dalam:
BJS->
AtsukuteDO->
AtsuuteVariasi:
Kata:
TakaiDO->
TakooteKata:
KitanaiDO->
Kitanoote2.2.3. Bentuk PengandaianPada kata sifat bentuk pengandaian yang digunakan sama dengan 2.1.3., akhiran “~tara” paling banyak digunakan.
2.2.4. Kata SeruUntuk menyatakan keterkejutan, cara pembentukannya adalah dengan menghilangkan akhiran “i” lalu memanjangkan huruf hidup terakhir setelah “i” dibuang. Contoh:
Kata:
OmoroiDO->
Omoroo2.2.5. Penggunaan Unik dari Satu Adjectival-VerbBJS mengategorikan kireina (cantik) sebagai adjectival-verb (nakeiyoushi), dan perubahan nadanya mirip dengan konjugasi kata kerja, misalnya: kireina—kireida. Namun dalam O, kata tersebut diperlakukan sama dengan kata sifat biasa dan perubahan nadanya juga diperlakukan sama seperti kata sifat umum, sehingga:
BJS->
Kirei datta—kirei dewa naiDO->
kirekatta—kirekunai2.3. Ekspresi Unik DO2.3.1. ~nenOrang-orang Osaka sering menambahkan “nen” di akhir kalimat untuk menekankan bahwa mereka “terbuka” dan “jujur” pada lawan bicara. Selain itu “nen” juga digunakan pada saat seseorang ingin mengatakan sesuatu yang tidak diketahui oleh orang lain, terutama mengenai alasan dibalik sesuatu. Sebagai contohnya:
“Dakara soko e ikimasunen.” (Karena itulah aku pergi ke sana.)
Bentuk lampau dari “ikimasunen” bukan “ikimashitanen”, tapi “ikimashiten”.
2.3.2.Ekspresi “Yoo (KK)+hen”Untuk menyatakan “Aku tidak bisa melakukan…”, orang-orang Osaka menggunakan “Yoo (KK)+hen”. “yoo” berasal dari kata keterangan “baiklah” dan ekspresi itu tidak digunakan dalam BJS.
2.3.3.Bentuk SopanDi Osaka, terutama pada restoran-restoran dan toko-toko elektronik murah, pemilik toko bisa jadi berbicara dalam gaya yang terlihat lebih bersahabat, tetapi orang-orang ada kalanya menggunakan bentuk sopan dari BJS. Umumnya yang biasa didengar adalah konjugasi sopan dari DO bentuk “haru”. Akhiran “haru” sedikit kurang sopan bila dibandingnkan dengan BJS, tapi dapat dipergunakan dalam kebanyakan situasi. Beberapa contoh bentuk “haru”:
Iku-> ikaharu
Asobu-> asobaharu
Taberu-> tabeharu
Suru-> shiharu
Kuru-> kiharu2.3.4.Menghilangkan PartikelPada percakapan dalam BJS, partikel seringkali dihilangkan, dan hal ini makin menjadi umum dalam DO. Tapi bila ingin membuat maksud jadi jelas, sebaiknya memang menggunakan partikel yang sesuai.
Diolah dari: buku yang tak kuketahui judulnya

Cmiiw.
Dan sekalian di-
cross check ke-
valid-annya dengan keadaan Osaka-ben sekarang ini...mengenai pengetrapannya di sono...apakah masih seperti itu? Silahkan odd-3...

Mengenai daftar kosa kata...mungkin menyusul...gak bisa ditulis begitu saja, karena ada intonasinya dan...banyak.
