30 Maret 2008

A Challenge for Kenshuusei

Sebuah tantangan untuk kenshuusei Indonesia!

Setiap tahun JITCO mengadakan banyak kegiatan untuk melatih dan meningkatkan kemampuan bahasa Jepang para peserta magang (kenshuusei/jisshusei) dan peserta internship di Jepang.
Salah satu agenda yang rutin diadakan oleh JITCO adalah Lomba Mengarang dalam Bahasa Jepang.

Tidak sesulit yang kita bayangkan dari nama eventnya, karangan yang dimaksud dalam Lomba ini adalah tulisan pendek 2-3 halaman (kertas (genkoyoushi) disediakan oleh panitia) dengan judul dan tema: bebas.


Dari naskah yang masuk akan diseleksi dan dipilih 28 tulisan terbaik untuk mendapatkan penghargaan dan hadiah uang. Jadi kesempatan untuk menang lebih besar.

Pada event sebelumnya, peserta dan pemenang lebih di dominasi oleh Kenshuusei dari China dan negara lain (entah karena tidak ada publikasi yang cukup atau apa), sementara peserta Kenshuusei Indonesia hanya beberapa. Padahal mengarang tidak sesulit yang kita bayangkan.

Dengan ide sederhana yang dapat berupa hal yang kita jumpai sehari-hari, jika di kemas dengan susunan menarik, pasti akan terlihat berbeda. Sebagai bahan referensi, klik disini untuk melihat tulisan dari pemenang tahun-tahun sebelumnya di website JITCO. Jika tidak terbaca di komputer karena software belum terinstall, download terlebih dahulu Adobe Reader disini.

Informasi lebih lengkap dapat dilihat di posting sebelumnya (maaf terjemahan bahasa Indonesianya masih berantakan... akan diedit lagi XD)

Ayo, buktikan Indonesia juga bisa ^^V
Ikuti Lomba Mengarang Bahasa Jepang ke-16 Tahun 2008 yang diselenggarakan oleh JITCO.
Dengan meluangkan waktu sedikit untuk menulis, siapa tahu menang, ada sebuah kebanggaan (plus dapat uang lagi ^oo^)

Ganbarimashou ne! [yo]

Japanese Writing Contest for Trainee

Lomba Mengarang dalam Bahasa Jepang untuk Peserta Magang (Kenshuusei) dan Peserta Intership Ke-16

Koreksi link: untuk download pamflet, formulir, dan panduan silakan klik disini, karena sepertinya download di website JITCO telah dihapus ^^. .


Japan International Training Cooperation Organization (JITCO) mengadakan Lomba Mengarang Bahasa Jepang untuk kenshuusei dan peserta internship asing di Jepang.
Kami mengharapkan partisipasi dari anda semua.

1. Peserta
Peserta adalah orang asing yang saat ini sedang berada di Jepang sebagai kenshuusei atau peserta intership.
▼ belum pernah menjadi pemenang di Lomba Mengarang Bahasa Jepang tahun sebelumnya.
▼ setiap peserta hanya diperbolehkan mengirim satu buah tulisan, dan tulisan tersebut belum pernah diikutkan pada Lomba lainnya.

2. Waktu Pendaftaran
Selasa, 01 April 2008 - Kamis 15 Mei 2008 (naskah harus sudah diterima panitia)

3. Tema
Bebas

4. Bahasa yang Digunakan
Bahasa Jepang

5. Aplikasi
Ditulis di kertas genkoyoushi A4 dengan jumlah huruf antara 800-1.200 huruf jepang.
▼ Naskah merupakan tulisan tangan asli dari peserta. Naskah yang ditulis menggunakan wapuro atau komputer tidak akan diterima.
▼ Tulislah nama peserta dan judul karangan di lembar naskah (klik disini untuk panduan penulisan selengkapnya)
▼ Genkoyoushi dapat di download di di situs JITCO (http://www.jitco.or.jp/)atau klik disini

6. Pendaftaran
Peserta diharuskan mengisi lengkap formulir pendaftaran kemudian dikirim bersama naskah ke alamat berikut

〒105-0013 東京都港区浜松町1-18-16 住友浜松町ビル4階
財団法人国際研修協力機構 能力開発部援助課 「作文係」

▼ Formulir dapat diperoleh dengan mendownload disini
▼ Pengumpulan naskah melalui FAX dan E-mail tidak akan diterima
▼ Jangan mengirimkan naskah terpisah dengan formulir pendaftaran

7. Hadiah dan Penghargaan
Hadiah Utama (untuk masing-masing 4 orang peserta) … Piagam dan Uang Tunai (70.000 Yen
Hide Yutaka Award (untuk masing-masing 4 orang peserta) … Piagam dan Uang Tunai (50.000 Yen)
Makoto Yutaka Award (untuk masing-masing 20 orang peserta) … Piagam dan Uang Tunai (30.000 Yen)

▼ Peserta yang naskahnya terpilih sebagai juara juga akan mendapatkan souvenir.
▼ Naskah pemenang akan dipublikasikan dalam「日本語作文コンクール優秀作品集」.

8. Pengumuman Pemenang
Pemenang akan diumumkan pada pertengahan/akhir Agustus 2008 via pos dan website JITCO. Upacara pemberian penghargaan akan diadakan awal Bulan Oktober 2008.

9. Lain-lain
(1) Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.
(2) Naskah yang tidak dilampiri formulir akan didiskualifikasi.
(3) Data pribadi yang tercantum dalah naskah akan ikut dipublikasikan untuk umum.
(4) Naskah yang telah masuk tidak akan dikembalikan.
(5) Hak cipta dan penyebarluasan naskah pada JITCO.

10. Alamat Kontak dan Informasi
財団法人国際研修協力機構 能力開発部援助課 「作文係」
Tel:03-6430-1183/Fax:03-6430-1115 :03-6430-1183


=============


財団法人国際研修協力機構(JITCO)は、以下のとおり日本語作文を募集します。
皆様からの積極的なご応募をお待ちしております。

1. 応募資格
募集期間内に、日本に在留する外国人研修生又は技能実習生であること
▼ 過去に本コンクールで最優秀賞を受賞された方は応募できません。
▼ 応募は一人一作品で、他のコンクール等に応募したことのない未発表の作品に限ります。

2. 募集期間
2008年4月1日(火)~2008年5月15日(木)必着

3. テーマ
自由

4. 使用言語
日本語

5. 応募形式
A4サイズの400字詰め原稿用紙2枚以上3枚以下で、文字数 800字以上1,200字以内
▼ 本人自筆の原本に限ります。ワープロ・パソコンの使用及びコピー原稿は受け付けません。
▼ 作品には必ず題名と氏名を記入してください。
▼ 原稿用紙は、JITCOホームページ(http://www.jitco.or.jp/)からも出力できます。

6. 応募方法
応募用紙に必要事項を記入のうえ、応募作品に添付し、次の宛先へ郵送してください。
〈作品応募先〉
〒105-0013 東京都港区浜松町1-18-16 住友浜松町ビル4階
 財団法人国際研修協力機構 能力開発部援助課 「作文係」
  ▼ 応募用紙は、本案内に掲載したものをコピーしてお使いください。
    また、JITCOホームページからも出力できます。
  ▼ FAXやE-mailでは受け付けません。
  ▼ 応募用紙は、記入漏れのないようにお願いします。

7. 賞
最優秀賞 ( 研修生・技能実習生計 4名程度 ) … 表彰状及び賞金 ( 7万円 )
優 秀 賞 ( 研修生・技能実習生計 4名程度 ) … 表彰状及び賞金 ( 5万円 )
優 良 賞 ( 研修生・技能実習生計20名程度 ) … 表彰状及び賞金 ( 3万円 )
▼ 上記入賞者の他に佳作を選出し、記念品を授与します。
▼ 上記入賞者及び佳作の作品は「日本語作文コンクール優秀作品集」に掲載します。

8. 入賞作品の発表
所属する受入れ機関を通じて入賞者に通知するとともに、2008年8月中・下旬頃にJITCOホームページで発表する予定です。なお、2008年10月初旬に東京で入賞者を対象とした表彰式を行う
予定です。

9. その他
(1) 審査に関するお問い合わせには、一切お答えできません。
(2) 募集要項に即していない作品は、審査の対象外となることがあります。
(3) 応募用紙に記載された個人情報は、本コンクールの運営に必要な範囲内で利用します。
(4) 応募作品は返却しません。
(5) 応募作品の著作権はJITCOに帰属します。

10. お問い合わせ先
財団法人国際研修協力機構 能力開発部援助課 「作文係」
電話:03-6430-1183/FAX:03-6430-1115


23 Maret 2008

Cosplay

Cosplay merupakan salah satu budaya baru dalam masyarakat Jepang, khususnya kaum muda, dalam hal berpakaian. Kebanyakan meniru karakter yang ada pada tokoh manga, anime, video game ataupun tokoh lain. Gaya berbusana yang menarik dan kreatif ini tampaknya juga cukup digemari oleh remaja di negara lain tidak terkecuali di Indonesia. [na]

02 Maret 2008

hina matsuri

Hinamatsuri (雛祭り, ひなまつり, Hinamatsuri?) atau Hina Matsuri adalah perayaan setiap tanggal 3 Maret di Jepang yang diadakan untuk mendoakan pertumbuhan anak perempuan. Keluarga yang memiliki anak perempuan memajang satu set boneka yang disebut hinaningyō (雛人形, hinaningyō? boneka festival).

Satu set boneka terdiri dari boneka kaisar, permaisuri, puteri istana (dayang-dayang), dan pemusik istana yang menggambarkan upacara perkawinan tradisional di Jepang. Pakaian yang dikenakan boneka adalah kimono gaya zaman Heian. Perayaan ini sering disebut Festival Boneka atau Festival Anak Perempuan karena berawal permainan boneka di kalangan putri bangsawan yang disebut hiina asobi (bermain boneka puteri).


Walaupun disebut matsuri, perayaan ini lebih merupakan acara keluarga di rumah, dan hanya dirayakan keluarga yang memiliki anak perempuan. Sebelum hari perayaan tiba, anak-anak membantu orang tua mengeluarkan boneka dari kotak penyimpanan untuk dipajang. Sehari sesudah Hinamatsuri, boneka harus segera disimpan karena dipercaya sudah menyerap roh-roh jahat dan nasib sial.

Sejarah

Sebelum kalender Gregorian digunakan di Jepang, Hinamatsuri dirayakan setiap hari ke-3 bulan 3 menurut kalender lunisolar. Menurut kalender lunisolar, hari ke-3 bulan 3 disebut momo no sekku (perayaan bunga persik), karena bertepatan dengan mekarnya bunga persik.

Kalender Gregorian mulai digunakan di Jepang sejak 1 Januari 1873 sehingga perayaan Hinamatsuri berubah menjadi tanggal 3 Maret. Walaupun demikian, sebagian orang masih memilih untuk merayakan Hinamatsuri sesuai perhitungan kalender lunisolar (sekitar bulan April kalender Gregorian),

Dalam sejumlah literatur klasik ditulis tentang kebiasaan bermain boneka di kalangan anak perempuan bangsawan istana dari zaman Heian (sekitar abad ke-8). Menurut perkiraan, boneka dimainkan bersama rumah boneka yang berbentuk istana. Permainan di kalangan anak perempuan tersebut dikenal sebagai hina asobi (bermain boneka puteri). Pada prinsipnya, hina asobi adalah permainan dan bukan suatu ritual.

Sejak abad ke-19 (zaman Edo), hina asobi mulai dikaitkan dengan perayaan musim (sekku) untuk bulan 3 kalender lunisolar. Sama halnya dengan perayaan musim lainnya yang disebut "matsuri", sebutan hina asobi juga berubah menjadi Hinamatsuri dan perayaannya meluas di kalangan rakyat.

Orang Jepang di zaman Edo terus mempertahankan cara memajang boneka seperti tradisi yang diwariskan turun temurun sejak zaman Heian. Boneka dipercaya memiliki kekuatan untuk menyerap roh-roh jahat ke dalam tubuh boneka, dan karena itu menyelamatkan sang pemilik dari segala hal-hal yang berbahaya atau sial. Asal-usul konsep ini adalah hinanagashi ("menghanyutkan boneka"). Boneka diletakkan di wadah berbentuk sampan, dan dikirim dalam perjalanan menyusuri sungai hingga ke laut dengan membawa serta roh-roh jahat.

Kalangan bangsawan dan samurai dari zaman Edo menghargai boneka Hinamatsuri sebagai modal penting untuk wanita yang ingin menikah, dan sekaligus sebagai pembawa keberuntungan. Sebagai lambang status dan kemakmuran, orang tua berlomba-lomba membelikan boneka yang terbaik dan termahal bagi putrinya yang ingin menjadi pengantin.

Boneka yang digunakan pada awal zaman Edo disebut tachibina (boneka berdiri) karena boneka berada dalam posisi tegak, dan bukan duduk seperti sekarang ini. Asal-usul tachibina adalah boneka berbentuk manusia (katashiro) yang dibuat ahli onmyōdō untuk menghalau nasib sial. Boneka dalam posisi duduk (suwaribina) mulai dikenal sejak zaman Kan'ei. Pada waktu itu, satu set boneka hanya terdiri sepasang boneka yang keduanya bisa dalam posisi duduk maupun berdiri.

Sejalan dengan perkembangan zaman, boneka menjadi semakin rumit dan mewah. Pada zaman Genroku, orang mengenal boneka genrokubina (boneka zaman Genroku) yang dipakaikan kimono dua belas lapis (jūnihitoe). Pada zaman Kyōhō, orang mengenal boneka ukuran besar yang disebut kyōhōbina (boneka zaman Kyōhō). Perkembangan lainnya adalah pemakaian tirai lipat (byōbu) berwarna emas sebagai latar belakang genrokubina dan kyōhōbina sewaktu dipajang.

Keshogunan Tokugawa pada zaman Kyōhō berusaha membatasi kemewahan di kalangan rakyat. Boneka berukuran besar dan mewah ikut menjadi sasaran pelarangan barang mewah oleh keshogunan. Sebagai usaha menghindari peraturan keshogunan, rakyat membuat boneka berukuran mini yang disebut keshibina (boneka ukuran biji poppy), dan hanya berukuran di bawah 10 cm. Namun keshibina dibuat dengan sangat mendetil, dan kembali berakhir sebagai boneka mewah.

Sebelum zaman Edo berakhir, orang mengenal boneka yang disebut yūsokubina (boneka pejabat resmi istana). Boneka dipakaikan kimono yang merupakan replika seragam pejabat resmi istana. Prototipe boneka Hinamatsuri yang digunakan di Jepang sekarang adalah kokinbina (translasi literal: boneka zaman dulu). Perintis kokinbina adalah Hara Shūgetsu yang membuat boneka seakurat mungkin berdasarkan riset literatur sejarah. Boneka yang dihasilkan sangat realistik, termasuk penggunaan gelas untuk mata boneka.

Mulai sekitar akhir zaman Edo hingga awal zaman Meiji, boneka Hinamatsuri yang mulanya hanya terdiri dari sepasang kaisar dan permaisuri berkembang menjadi satu set boneka lengkap berikut boneka puteri istana, pemusik, serta miniatur istana, perabot rumah tangga dan dapur. Sejak itu pula, boneka dipajang di atas dankazari (tangga untuk memajang), dan orang di seluruh Jepang mulai merayakan hinamatsuri secara besar-besaran.

Susunan boneka

Boneka diletakkan di atas panggung bertingkat yang disebut dankazari (tangga untuk memajang). Jumlah anak tangga pada dankazari ditentukan berdasarkan jumlah boneka yang ada. Masing-masing boneka diletakkan pada posisi yang sudah ditentukan berdasarkan tradisi turun temurun. Panggung dankazari diberi alas selimut tebal berwarna merah yang disebut hi-mōsen.

Satu set boneka biasanya dilengkapi dengan miniatur tirai lipat (byōbu) berwarna emas untuk dipasang sebagai latar belakang. Di sisi kiri dan kanan diletakkan sepasang miniatur lampion (bombori). Perlengkapan lain berupa miniatur pohon sakura dan pohon tachibana, potongan dahan bunga persik sebagai hiasan.

Tangga teratas

Dua boneka yang melambangkan kaisar (o-dairi-sama) dan permaisuri (o-hina-sama) diletakkan di tangga paling atas. Dalam bahasa Jepang, dairi berarti "istana kaisar", dan hina berarti "sang putri" atau "anak perempuan". Wilayah Kansai dan Kanto memiliki urutan kanan-kiri yang berbeda dalam penempatan boneka kaisar dan permaisuri, namun susunan boneka di setiap anak tangga berikutnya selalu sama.

Tangga kedua

Tiga boneka puteri istana (san-nin kanjo) diletakkan di tangga kedua. Ketiga puteri istana membawa peralatan minum sake. Boneka puteri istana yang paling tengah membawa mangkuk sake (sakazuki) yang diletakkan di atas sampō. Dua boneka puteri istana yang lain membawa poci sake (kuwae no chōshi), dan wadah sake yang disebut (nagae no chōshi). Gigi salah satu boneka puteri istana dihitamkan (ohaguro) dan alisnya dicukur habis. Dalam boneka versi Kyoto, puteri istana yang paling tengah dari Kyoto membawa shimadai (hiasan tanda kebahagiaan dari daun pinus, daun bambu, dan bunga ume).[1]

Tangga ketiga

Lima boneka pemusik pria (go-nin bayashi) berada di tangga ketiga. Empat musisi masing-masing membawa alat musik, kecuali penyanyi yang membawa kipas lipat. Alat musik yang dibawa masing-masing pemusik adalah taiko, ōkawa, kotsuzumi, dan seruling.

Tangga keempat

Dua boneka menteri (daijin) yang terdiri dari Menteri Kanan (Udaijin) dan Menteri Kiri (Sadaijin) berada di tangga ke-4. Boneka Menteri Kanan digambarkan masih muda, sedangkan boneka Menteri Kiri tampak jauh lebih tua. Dari sudut pandang pengamat, Menteri Kanan berada di sebelah kiri, sedangkan Menteri Kiri berada di sebelah kanan.

Tangga kelima

Pada tangga kelima diletakkan tiga boneka pesuruh pria (shichō). Ketiganya masing-masing membawa bungkusan berisi topi (daigasa) yang dibawa dengan sebilah tongkat, sepatu yang diletakkan di atas sebuah nampan, dan payung panjang dalam keadaan tertutup. Dalam boneka versi lain, pesuruh pria membawa penggaruk dari bambu (kumade) dan sapu.[2] Selanjutnya, kereta sapi dan berbagai miniatur mebel yang dijadikan hadiah pernikahan diletakkan di atas tangga-tangga di bawahnya.

Hidangan

Hidangan istimewa untuk anak perempuan yang merayakan Hinamatsuri antara lain: kue hishimochi, kue hikigiri, makanan ringan hina arare, sup bening dari kaldu ikan tai atau kerang (hamaguri), serta chirashizushi. Minumannya adalah sake putih (shirozake) yang dibuat dari fermentasi beras ketan dengan mirin atau shōchū, dan kōji. Minuman lain yang disajikan adalah sake manis (amazake) yang dibuat dari ampas sake (sakekasu) yang diencerkan dengan air dan dimasak di atas api.

dikutip dari: http://id.wikipedia.org/wiki/Hina_Matsuri
gambar dari: http://www.vill.nishiokoppe.hokkaido.jp/Office/AET/homepage61.jpg