kaoru de---su
お久しぶり^^ pas tadi browsing2 forum... eh nemu artikel bagus di lautan indonesia...
source aslinya di: http://www.lautanindonesia.com/forum/index.php/topic,5249.10.html. buat owner artikelnya.. gomen ga ijin dulu yah XD ikut nulis BLOG ini yuk.
kaoru
Dialek Osaka
Ōsaka-ben masih termasuk dalam Keluarga Dialek Kansai. Orang-orang sering tertukar-tukar dalam menggunakan Kansai-ben dengan Ōsaka-ben.
Di dalam Dialek Osaka, aksen adalah penting. Hal ini terlihat misalnya pada: “ookini” dan “maido”. Kedua kata itu merupakan kata dalam Dialek Osaka (DO) yang artinya “terima kasih”. Tapi kata-kata itu bisa menjadi bukan DO bila pengucapannya menggunakan aksen pada Bahasa Jepang Standar (BJS). Dalam hal ini, aksen BJS identik dengan aksen Orang Tokyo. Dengan kata lain, jika suatu frase BJS diucapkan dengan aksen DO, berarti frase tersebut adalah DO. Untuk mengucapkan DO dengan benar, terlebih dahulu pembicara harus tahu apakah suku kata pertama dari suatu suku kata dimulai dengan nada tinggi atau rendah.
1. Tips
Kata yang bersuku kata 1
Kata-kata yang bersuku kata satu, huruf vokalnya dipanjangkan.
Contoh:
- Me (mata)-> mee
- Cha (teh)-> chaa
Bunyi “u”
Dalam BJS, bunyi “u” sering tidak diucapkan. Namun dalam DO, bunyi “u” diucapkan dengan jelas.
Contoh:
BJS: Tak
DO: Takushii
2. Tata Bahasa
2.1. Kata Kerja (KK)
2.1.1. Bentuk Negatif
Dalam konjugasi KK dalam BJS, bentuk negatif dari iku (pergi) adalah ikanai.
Dalam DO-> ikahen/ikehen
Dalam Dialek Kyoto:
- Ikahen-> tidak pergi
- Ikehen-> tidak dapat pergi
Sedangkan dalam DO, tidak dapat pergi-> ikarehen
Contoh dari KK bentuk negatif dalam DO yang lain:
Miru (melihat)-> miihen
Neru (tidur)-> neehen
Kuru (datang)-> keehen/kiihin/koohen
Suru (melakukan)-> seehen/shiihin
Beberapa kata kerja ada yang mempunyai variasi, misal: iku-> ikan, miru-> min
2.1.2. Konjugasi dari Bunyi “u”
Kata kerja yang berakhiran “u” bila berkonjugasi dengan bentuk “~te” atau “~ta” pada:
KK bersuku kata 2, misal:
Kata: au (bertemu)
BJS: ~te-> atte | ~ta-> atta
DO: ~te-> oote | ~ta-> oota
Sedangkan pada KK bersuku kata 3, diucapkan dengan huruf hidup yang lebih pendek, misal:
Kata: Omou (berpikir)
BJS: ~te-> omotte | ~ta-> omotta
DO: ~te-> omote | ~ta-> omota
2.1.3. Bentuk Pengandaian
BJS punya tiga konjugasi dalam bentuk pengandaian yang penggunaannya bergantung pada situasi, yaitu: ~eba, ~tara, ~to. Sedangkan dalam DO, hanya menggunakan bentuk ~tara.
Contoh:
Kata: Miru (melihat)
BJS-> Mireba, mitara, miruto
DO-> Mitara
2.1.4. Bentuk Perintah
Bentuk perintah dalam DO pada dasarnya sama saja dengan BJS, kecuali KK bersuku kata dua, misalnya:
Kata: Neru (tidur)
BJS-> Nero!
DO-> Nee!
Sedangkan untuk memberikan sebuah saran, maka:
Kata: Taberu (makan), kaeru (pulang)
DO-> Tabe (sebagai ganti dari “tabero”), kaeri (sebagai ganti dari “kaere”)
2.2. Kata Sifat
2.2.1. Peraturan-peraturan Umum
Untuk menegatifkan kata sifat dalam DO, caranya adalah dengan mengganti akhiran “i” dengan “nai”. Contoh:
Kata: Takai (tinggi)
BJS-> Takakunai
DO-> Takanai
Untuk mengatakan sesuatu yang berubah menjadi “lebih”, peraturannya tetap sama, yaitu dengan menghilangkan akhirang “i” dan menambahkan “naru”. Contoh:
Kata: Takai
BJS-> Takaku naru
DO-> Takanaru
2.2.2. Konjugasi “~te”
Pada kalimat “Karena sangat panas maka…” dalam:
BJS-> Atsukute
DO-> Atsuute
Variasi:
Kata: Takai
DO-> Takoote
Kata: Kitanai
DO-> Kitanoote
2.2.3. Bentuk Pengandaian
Pada kata sifat bentuk pengandaian yang digunakan sama dengan 2.1.3., akhiran “~tara” paling banyak digunakan.
2.2.4. Kata Seru
Untuk menyatakan keterkejutan, cara pembentukannya adalah dengan menghilangkan akhiran “i” lalu memanjangkan huruf hidup terakhir setelah “i” dibuang. Contoh:
Kata: Omoroi
DO-> Omoroo
2.2.5. Penggunaan Unik dari Satu Adjectival-Verb
BJS mengategorikan kireina (cantik) sebagai adjectival-verb (nakeiyoushi), dan perubahan nadanya mirip dengan konjugasi kata kerja, misalnya: kireina—kireida. Namun dalam O, kata tersebut diperlakukan sama dengan kata sifat biasa dan perubahan nadanya juga diperlakukan sama seperti kata sifat umum, sehingga:
BJS-> Kirei datta—kirei dewa nai
DO-> kirekatta—kirekunai
2.3. Ekspresi Unik DO
2.3.1. ~nen
Orang-orang Osaka sering menambahkan “nen” di akhir kalimat untuk menekankan bahwa mereka “terbuka” dan “jujur” pada lawan bicara. Selain itu “nen” juga digunakan pada saat seseorang ingin mengatakan sesuatu yang tidak diketahui oleh orang lain, terutama mengenai alasan dibalik sesuatu. Sebagai contohnya:
“Dakara soko e ikimasunen.” (Karena itulah aku pergi ke sana.)
Bentuk lampau dari “ikimasunen” bukan “ikimashitanen”, tapi “ikimashiten”.
2.3.2.Ekspresi “Yoo (KK)+hen”
Untuk menyatakan “Aku tidak bisa melakukan…”, orang-orang Osaka menggunakan “Yoo (KK)+hen”. “yoo” berasal dari kata keterangan “baiklah” dan ekspresi itu tidak digunakan dalam BJS.
2.3.3.Bentuk Sopan
Di Osaka, terutama pada restoran-restoran dan toko-toko elektronik murah, pemilik toko bisa jadi berbicara dalam gaya yang terlihat lebih bersahabat, tetapi orang-orang ada kalanya menggunakan bentuk sopan dari BJS. Umumnya yang biasa didengar adalah konjugasi sopan dari DO bentuk “haru”. Akhiran “haru” sedikit kurang sopan bila dibandingnkan dengan BJS, tapi dapat dipergunakan dalam kebanyakan situasi. Beberapa contoh bentuk “haru”:
Iku-> ikaharu
Asobu-> asobaharu
Taberu-> tabeharu
Suru-> shiharu
Kuru-> kiharu
2.3.4.Menghilangkan Partikel
Pada percakapan dalam BJS, partikel seringkali dihilangkan, dan hal ini makin menjadi umum dalam DO. Tapi bila ingin membuat maksud jadi jelas, sebaiknya memang menggunakan partikel yang sesuai.
Diolah dari: buku yang tak kuketahui judulnya

Cmiiw.
Dan sekalian di-cross check ke-valid-annya dengan keadaan Osaka-ben sekarang ini...mengenai pengetrapannya di sono...apakah masih seperti itu? Silahkan odd-3...

Mengenai daftar kosa kata...mungkin menyusul...gak bisa ditulis begitu saja, karena ada intonasinya dan...banyak.





1 komentar:
salam kenal
kalau saya pernah dengernya saga-ben (maklum mantan pengguna)
seperti wakaranai dan shiranai jadi wakaran dan shiran.
lalu atsui dan samui jadi atsuka atau samuka..
Poskan Komentar